Feb 3, 2011

Memori di Kota Kecil

Pagi tadi aku sampai di terminal bus Purwokerto. Dua jam perjalanan udara ditambah empat jam perjalanan darat cukup melelahkan. Namun, aku memutuskan terus melanjutkan perjalanan karena aku tak mau ketinggalan acara sakralmu. Seorang kakek tergopoh-gopoh datang ketika kupanggil. Aku memilih naik becak dengan alasan ingin bernostalgia dengan jalanan tempatku dibesarkan. Lagipula, aku tidak ingin merepotkan dengan meminta orang lain untuk menjemputku.

Lima tahun. Ah tidak, kurasa lebih dari itu. Telah lama aku tinggalkan kota kecil ini, tetapi rasanya tak ada perubahan berarti di sini. Reklame dan baliho, tugu perbatasan, serta pepohonan masih utuh seperti dalam rekaman otakku. Bahkan ketika aku mampir di kafe untuk istirahat minum teh, server yang melayaniku telah ada ketika terakhir kali aku datang bersamamu, shin.
Aku merasa sangat aneh. Entah kenapa seolah-olah Purwokerto statis. Jika kota-kota lain terus berkembang, maka Purwokerto adalah sebuah anomali. Tak ada gedung pencakar langit, tak ada geliat modernisasi, dan tak ada riak pembangunan. Semuanya sama seperti dulu, tanpa perubahan. Mungkin waktu tak pernah berjalan di kota ini.

Memang, sejak hari perpisahan denganmu, Purwokerto seakan berhenti berjalan. Semua hal yang ada disini masih saja mengingatkanku pada kisah yang pernah kita jalin. Aku ingat, kita pernah duduk berdua di alun-alun. Ketika itu, di sore yang hujan itu, kau merengek meminta dibelikan bakso kesukaanmu. Kali lain, kita pernah pula bersama menanti pagi di atap rumahku. Kenangan-kenangan itu laksana air sungai yang mengalir dengan kekal. Kadang surut, tetapi selalu ada untuk menyejukkan. Dan sekarang, saat aku kembali, aku merasakan dahaga yang telah kutahan beberapa saat lamanya terobati. Kembali aku minum air kenangan tentang kita.

Tiba-tiba bayangmu hadir, membawa kembali memori yang telah aku tinggal di sini. Kamu datang kembali dengan kalimat khasmu.
“mas, semoga kamu selalu setia padaku hingga mati. Semoga rasa sayangmu tak kalah dengan Rama yang selalu menjaga Shinta.”
Aku ingin percaya bahwa kamu benar-benar ada di dekatku. Setelah kita melalui hari bersama penuh cinta, rasanya tak mungkin aku tidak mengharapkanmu kembali padaku. Apalagi aku tak ingin munafik mengatakan aku telah melupakanmu. Jujur, waktu selama apapun takkan pernah benar-benar bisa menghilangkanmu dari ingatanku.

Kota kecil tempat aku lahir ini adalah manifestasi isi hatiku. Tetap dan tak berubah. Namun, aku justru nyaman dengan apa yang aku rasa. Aku sadar setiap perubahan akan menimbukan konflik dan aku merasa beruntung tidak harus berkonflik dengan batinku sendiri. Permintaanmu agar aku selalu sayang padamu agaknya tak perlu terucap dari mulut karena tanpa kamu minta pun perasaanku padamu takkan pernah pudar.
Lamunanku buyar ketika tukang becak yang aku tumpangi menghentikan becaknya di depan sebuah rumah dengan janur kuning melengkung di depannya. Ternyata aku terlalu asyik melamun hingga tanpa sadar aku sudah sampai di tempat tujuanku.

Aku turun dari becak dan segera membayar ongkosnya. Akan tetapi, aku masih ragu-ragu untuk memasuki rumah yang tengah mengadakan resepsi pernikahan tersebut. Lalu, kuambil undangan di dalam tas ranselku dan kubaca lagi isinya.
MENIKAH:
SHINTA SWARA SARI
Dengan
DONI ADITYA
Aku menghela nafas sejenak sebelum kembali meyakinkan diriku sendiri untuk segera masuk. Lamat-lamat terdengar lagu Broery Marantika lewat pengeras suara:

Tak perlu engkau tahu rasa rindu ini
Dan lagi mungkin kini kau telah bahagia
Namun andai kau dengar syair lagu ini
Jujur saja aku sangat merindukanmu

Kini kamu telah mendapatkan “Rama” yang akan selalu menjagamu, selalu menyayangimu. Aku tak pernah menyalahkanmu telah memilih orang lain. Aku justru bahagia karena kamu tak perlu menangis sedih lagi karenaku. Aku akan senang melihatmu bahagia, shin. Hanya saja, aku sedikit menyesalkan sikap bodohku yang selalu mengharapkanmu.

5 comments:

  1. cerita nyatamu ta? :o
    km ditinggal nikah?

    ReplyDelete
  2. Cerita yang indah. Sungguh. Penuturan, pemilihan bahasa, bisa membuat saya terbawa kedalam cerita. Merasakan 'sakit'nya dibayangi MasaLalu. Gak menyangka kau bisa menulis seindah ini, juwnior.

    ReplyDelete
  3. Iyas: Bukan yas, itu kan ada labelnya fiksi -__-"

    Dee: hehe makasih, butuh kritikannya :)

    ReplyDelete
  4. lebih eksplor ke perasaannya aja dan masa lalunya. purwokertonya jangan terlalu dibahas. tapi lumayan nyindir untuk yang masih suka mengingat masa lalu

    ReplyDelete
  5. eh
    ahaha iya
    berati kurang teliti bacanya

    ReplyDelete