Feb 7, 2011

Karena Kemerdekaan adalah Hak

Bob Marley lahir pada tanggal 6 Februari 1945 di sebuah distrik kumuh di Jamaika. Pada malam kelahirannya, banyak orang melihat meteor berjatuhan. Orang percaya hal tersebut adalah sebuah pertanda kelahiran orang besar.  Mitos yang terbukti benar. Kelak, sosok Robert Nesta Marley, nama asli bob, akan selalu bergema dan dihubungkan dengan reggae, the song of freedom.

Tak perlu diragukan lagi, Bob Marley penyanyi terbesar di wilayah ini. Jika Michael Jackson disebut-sebut sebagai king of pop, maka Marley adalah king of reggae. Bahkan, boleh dibilang Marley jauh lebih dari raja, ia adalah nabi. Pada saat anak-anak muda Jamaika menikmati musik bawaan imperialis kulit putih, Marley sibuk membuat karyanya sendiri. Bersama The Wailers, ia berdendang tentang kebebasan dan menentang penjajahan di bumi Afrika. Misinya tak kalah dengan Nelson Mandela: melawan iblis terkutuk bernama rasisme yang membunuh satu-persatu kulit hitam, hari demi hari.

Satu prinsip Bob Marley yang harus dicontoh adalah, ia tak pernah menyetujui kekerasan. Penjajahan di Jamaika sangat erat kaitannya dengan perang. Hampir tiap hari ia melihat orang meninggal karena perang. Orang tua tergeletak lemah di jalanan, sedang yang muda tak lagi punya harapan hidup. Itulah sebabnya ia memilih jalan damai. Paradigma masyarakat yang menyepakati bahwa perjuangan harus lewat politik dan perang ia tolak mentah-mentah. Ia berjuang melalui lagu-lagunya karena ia tak ingin melihat darah dan air mata tumpah di negaranya. Kini, nama Bob Marley jauh lebih harum daripada pahlawan nasional Jamaika sekelas Marcus Garvey sekalipun.

Menengok ke belakang, beberapa tahun sebelum lahirnya sang nabi, Indonesia telah lebih dulu kedatangan seorang bayi yang juga melegenda. Nama bayi tersebut adalah Pramoedya Ananta Mastoer. Terlahir pada tanggal 6 Februari 1925, Pram, panggilan akrab Pramoedya, menjadi besar berkat tulisan-tulisannya. Namanya menjadi ikon perlawanan bagi kaum-kaum yang tak pernah puas dengan keadaan negeri ini.

Pram tahu betul bahwa kemerdekaan jauh lebih dalam dari sekadar kalimat-kalimat tertulis di atas selembar kertas. Proklamasi, yang seharusnya menjadi pernyataan kemerdekaan untuk seluruh warga Indonesia, buat Pram hanyalah sebuah simbol usang. Buktinya, ia masih merasakan sendiri betapa sadisnya pelaksanaan hukum di Indonesia. Hipokrisi kekuasaan, begitu katanya. Sebuah bentuk penjajahan gaya baru yang dilakukan bahkan oleh pemerintah sendiri.

“Saya menentang ketidakadilan dan penindasan. Bukan sekadar menentang, tetapi melawan! Melawan pelecehan kemanusiaan. Saya tidak berubah,” ucap Pram suatu ketika. Mungkin karena itulah penguasa Orde Baru tak pernah menyukainya. Tulisan-tulisan pram dimusnahkan. Novel-novel dan karya-karyanya tak pernah dianggap dalam sejarah sastra Indonesia. Pemerintah berengsek yang mengidap paranoia terhadap kebenaran selalu berusaha membungkamnya. Mereka takut pada sosok Pram akan menghancurkan kebusukan-kebusukan yang ada di system pemerintahan. Namun, bukan Pram namanya jika ia menyerah begitu saja. Hingga ia meninggal, ia terus berjuang. Jika Marley berjuang lewat lagu, Pram memilih jalur sastra sebagai media perjuangannya.

Baik Bob Marley maupun Pramoedya Ananta Toer tidak pernah memikirkan nasib mereka sendiri. Marley berjuang atas nama kulit hitam yang termarjinalkan, sedangkan Pram melawan kediktatoran yang mengatasnamakan penguasa. Akan tetapi, kontribusi atas nama mereka pribadi tetaplah sangat besar. Pada tahun 1978, Bob Marley menerima Medali Perdamaian dari PBB sebagai penghargaan atas upayanya mempromosikan perdamaian melalui lagu-lagunya. Nama Pram, setelah era Orde Baru berakhir, selalu dihubung-hubungkan dengan nobel sastra yang sangat bergengsi. Penghargaan yang sangat pantas didapat oleh mereka yang telah mempertaruhkan seluruh waktunya demi satu kepuasan batin bernama kebebasan.

Post Scriptum: karena kemerdekaan adalah hak, maka saya mengucapkan terima kasih kepada Tuhan YME atas kelahiran Bob Marley dan Pramoedya Ananta Toer yang selalu berjuang melawan penindasan. Selamat ulang tahun, Bob! Selamat ulang tahun, Pram!

3 comments: