Dec 12, 2010

Sedikit Catatan Mengenai Pers

Hiperbola, atau orang gaul era sekarang lebih suka menyebut lebay. Mungkin itu adalah kata yang cukup tepat untuk menggambarkan media, terutama televisi, yang muncul dewasa ini. Terbukti dengan keluarnya larangan tayang untuk salah satu program infotainment karena memberitakan kebohongan yang mengakibatkan kecemasan masyarakat, terutama kawasan Merapi pada waktu itu.

Ya, menurut saya memang media-media yang ada sekarang terlalu berlebihan dalam memberitakan sesuatu hal. Segala upaya ditempuh demi mengejar rating yang tinggi. Bahkan jika perlu, cara-cara curang pun jamak dilakukan. Padahal, merunut pada UU pers, dikatakan bahwa salah satu peran pers adalah mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar. Nyatanya, kebanyakan berita justru menyesatkan dan mengaburkan kebenaran.

Contoh di atas baru salah satu kasus kelalaian pers menjalankan fungsinya dengan baik karena terlalu fokus pada pencarian laba dari rating. Lebih berbahaya lagi jika media dikuasai oleh orang-orang yang bermain di dunia politik. Hampir dapat dipastikan terjadi penyalahgunaan media untuk memuluskan langkah-langkah pemilik media dalam permainan politik, apalagi ketika orang tersebut memang sedang tersandung masalah besar. Apabila pada tahun 70-an hingga 90-an heboh dengan pembredelan yang dilakukan oleh pihak penguasa, sekarang justru pisau bredel berada di tangan pemilik media.  Ada berita yang menyudutkan si bos, maka sudah pasti tidak akan dipublikasikan ke masyarakat.

Sebenarnya, hal tersebut sah-sah saja dilakukan. Namun ini bukan masalah benar atau salah, tetapi masalah pantas atau tidak pantas. Napoleon Bonaparte pernah berujar, “Four hostile newspapers are more to be feared than a thousand bayonets”. Kelompok militer atau pemberontak yang sporadis belum tentu bisa melakukan makar. Akan tetapi, oposisi yang memiliki media akan mempunyai kekuatan untuk mengkritik, atau bahkan menjatuhkan pemerintahan. Oleh karena itu, seyogyanya para kaum kapitalis penguasa media harus bisa menempatkan posisinya dengan baik. Jangan karena berlindung di balik jargon “kebebasan pers”, lantas mereka berbuat semena-mena. Satu hal yang harus diingat, kebebasan yang dipunyai setiap manusia adalah kebebasan yang bertanggung jawab, bukan bebas hingga mengebiri hak orang lain.

Mungkin sedikit catatan di atas hanya tetap menjadi utopia yang tidak akan tercapai, tapi paling tidak hal tersebut bisa menjadi sedikit gambaran tentang apa yang sebaiknya dilakukan. Paling tidak, seharusnya para pekerja media mempunyai integritas seperti Surastri Karma Trimurti yang sempat menolak jabatan menteri pada zamannya. Bukan malah bermain dengan lembar saham, asyik mencari keuntungan atas jabatan yang diemban. Dan warga Negara Indonesia yang terdidik dengan pelajaran Pancasila tentu tahu bahwa orang yang lebih memilih kepentingan pribadi daripada kepentingan masyarakat adalah hal yang tidak pantas untuk dilakukan.

0 comments:

Post a Comment