Mar 8, 2010

Mau jadi apa saya?

Selama hidup, banyak orang yang saya sukai, baik itu akademisi, tokoh agama, atlet hingga sosialis. Orang-orang tersebut memiliki kelebihan yang tentu membuat saya terkesima ketika melihat segudang prestasinya. Orang yang tentu saja ada di peringkat atas adalah Muhammad S.A.W yang pengaruhnya masih sangat besar hingga beratus-ratus tahun setelah beliau meninggal.Kemudian ada ilmuwan-ilmuwan yang telah memberikan banyak kontribusi kepada perkembangan IPTEK. Selain itu juga masih banyak lagi yang jika biografinya dibaca pasti akan menimbulkan decak kagum.

Yang jadi masalah adalah, saya sudah hampir 20 tahun menginjakkan kaki di dunia dan bahkan belum bisa berbuat apapun untuk diri saya sendiri. Kalau ingin dibandingkan dengan tokoh tadi, pasti semua akan sepaham bahwa saya bukan apa-apa. Apabila menilik pada usia Rasulullah yang “hanya” sampai di 60-an, berarti selama sepertiga hidup ini saya hanya nyampah dan menjadi bangkai berjalan.

Lalu di mana impian, harapan, dan cita-cita saya?
Jawab saya tidak ada. Ibarat melangkah, sejauh ini saya asal jalan. Dan saya pun tak tahu mau ke mana saya akan pergi. Mungkin jika ditanya sehari, seminggu, atau sebulan lagi saya mau berbuat apa, mungkin masih ada improvisasi. Tapi bila ada orang bertanya 3, 5, atau 10 tahun lagi saya mau jadi apa, jawabannya akan sama susahnya dengan ikut ujian tanpa belajar. Dan tentu saja semua tahu hasilnya akan tidak memuaskan.

Dan ketika orang bertanya:
Siapa yang patut dipersalahkan? Tidak ada, ini salah saya sendiri.
Apa yang sudah dilakukan selama ini? Tidak ada, hanya merepotkan orang tua.
Kapan mau berubah? Mmm..
Saya tahu, jawabannya seharusnya “sekarang”, tapi akan banyak kata “tetapi”. Kalau sudah begini, akan muncul kata-kata ajaib “jika”. Jika dulu saya terlahir dengan bakat, jika dulu saya belajar keras, jika, jika, dan masih banyak lagi jika yang lain.

Oke, cukup untuk bernostalgia. Semua tahu itu akan membawa dampak sistemik terhadap masa depan. Saya harus berubah, dari sekarang, dari hal kecil. Mungkin dari membiasakan bangun pagi, atau mengurangi hal-hal yang tak bermanfaat. Yang jelas saya tidak boleh terus seperti ini. Kalaupun nanti saya tidak bisa mengubah dunia, saya sudah mengubah diri saya sendiri. Mungkin juga saya tidak mampu membanggakan orang banyak, tapi saya yakin, paling tidak, nanti saya bisa membuat keluarga bangga terhadap saya.
Yang jelas, buat saya, tidak ada kebanggaan menjadi seorang pecundang dan tak akan pernah ada selebrasi untuk sebuah kekalahan.

1 comment:

  1. gan ane juga merasa begitu,,,ane punya kata2 dari orang yg ane banggakan,,bokap ane gan,,,,,bokap bilang bukan kenapa menjalani hidup tapi bagaimana menjalani hidup,,,berhasil dalam hal yg kecil pasti akanberhasil juga dalam hal yg besar gan,,jangan pernah mengangap hal yg kecil itu g berguna,,,karna dari hal kecil kita menjadi besar,,,semoga kita tidak menjadi pecundang gan.....nice post gan.......

    ReplyDelete