Mar 21, 2010

Dua Belas Purnama

Sore tadi aku berkunjung ke kafe yang biasa kita kunjungi. Entah angin apa yang membawaku, pun aku tak punya cukup alibi untuk mampir. Namun faktanya kendaraanku bak merpati pos yang telah tahu tujuannya sendiri.

Sudah cangkir kopi yang ketiga, tapi aku masih belum menemukan alasan untuk apa aku di sini. Hujan di luar dan lagu yang dibawakan seharusnya bisa menghangatkan, apalagi dinikmati bersama caffe latte dan rokok yang kuhisap sekarang ini. Akan tetapi hal itu hanya berlaku jika aku tak di sini. Ya, duduk di sini seperti membuka album usang yang seharusnya dibuang.

Aku masih ingat dengan jelas tiap peristiwa di kafe ini. Dua belas purnama yang lalu, sore hari berhujan seperti saat ini. Udara luar yang dingin membuat kaca berembun. Dengan telunjukmu, kau menuliskan nama kita berdua. Lalu dengan manjanya kau bersandar pada punggung kurusku.

Kauingat sayang? Kita selalu mencari tempat di pojok dan menghabiskan waktu hingga pelayan datang dengan senyum seraya bertanya, “ ada last order tuan? Kita mau tutup..” yang cukup membuat kita tersipu malu.

“aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember”
Kaudengar sayang? Lagu kesayanganmu hadir sore ini. Aku juga suka lagu itu, lagu yang menggambarkan kesetiaan sang Pelangi. Namun sekarang bukan Desember, sekarang baru masuk bulan empat. Dan hujan di bulan ini akan selalu mengantarku pada dua belas purnama lalu. Ketika kau masih di sini, ketika harapan masih membubung, dan ketika semua masih baik-baik saja.

Dua gelas kopi dan 4 batang rokok berikutnya baru menyadarkanku akan pahitnya perpisahan. Seperti malam itu, ketika kau mengirim pesan selamat tinggal tanpa alasan padaku. Alasan yang baru kutemukan berbulan-bulan kemudian, saat seorang sahabat bercerita padaku bahwa ia melihatmu bersama lelaki lain. Dia melihatmu pada bulan enam, yang aku yakini saat itu aku masih menjadi pendampingmu.

Kautahu sayang? Sekarang 5April 2010. Aku sengaja meluangkan waktu untuk datang ke kafe kesukaanmu ini. Kuharap kau datang sekedar untuk mampir sehingga aku dapat melihat wajahmu sekali ini saja, sebentar saja. Aku berusaha meyakinkan diriku, kau pasti masih ingat hari apa ini, kau pasti datang. Itu sebabnya aku tak peduli banyaknya kopi yang telah aku pesan. Aku tak peduli banyaknya tatapan mata yang terarah padaku dan menyumpahi gila. Aku tak peduli arlojiku berbunyi pertanda hari telah berganti.

Kautahu sayang? Aku masih menunggumu. Hingga semalam ini. Hingga terdengar suara lembut perempuan yang familiar.

“ada last order tuan?”

0 comments:

Post a Comment