May 9, 2020

What I Talk About When I Talk About Quarantine

Belakangan ini saya sedang membaca ulang buku Haruki Murakami yang berjudul What I Talk About When I Talk About Running. Meski tipis dan bisa habis dalam sekali duduk, buku ini menyenangkan sehingga tidak pernah membosankan untuk saya baca. Barangkali alasan lainnya adalah karena saya fanboy Murakami. Menurut saya, gaya dia bertutur sangat menarik. Tulisan dia bertempo pelan, berusaha menjelaskan suasana, detil, dan hal-hal kecil dengan baik tapi tidak terjebak menjadi guru yang mendikte terlalu banyak. Di buku ini, misalnya, suatu kali Murakami menjelaskan panasnya Athena saat dia menjalani lari maraton di kota tersebut, atau bagaimana kondisi jalanan tempat dia berlatih lari di dekat kampung halamannya yang berbukit-bukit. Selain itu, cara dia melompat dari penceritaan mengenai dirinya sendiri dan apa yang dia pikirkan selama karir panjangnya sebagai penulis (dan pelari) sungguh asoy. Sehingga saya merasa ceritanya tidak melulu berputar mengelilingi dirinya sendiri.

Itu adalah kesan saat saya membaca buku tersebut untuk kali pertama. Saat kembali membuka bukunya baru-baru ini, saya menangkap ada hal lain yang menarik. Murakami, pada suatu titik, memutuskan menutup bar yang selama ini menghidupinya, menghabiskan segala kebiasaan yang menurutnya buruk, dan fokus mengejar apa yang benar-benar dia inginkan setelah sekian lama: menulis. Konsekuensinya adalah dia berusaha keras untuk disiplin dan memacu diri, menjaga pola hidup dan pola tidur, serta – yang membuat saya berpikir ulang tentang teori introvert dan ekstrovert – menarik diri dari kehidupan sosial. Kalau tidak benar-benar perlu, katanya, sebisa mungkin dia tidak berinteraksi dengan orang lain. Dia mulai memutus lingkaran-lingkaran besar pertemanannya. Sebuah keputusan yang sangat berani mengingat sebelum ini dia memiliki bar yang mau tidak mau mengharuskannya berinteraksi dengan sangat banyak orang setiap harinya.

Sep 10, 2019

Daniah


Saya mengenal Daniah pada sebuah kepanitiaan acara kampus yang digelar oleh Pusat Studi Perpajakan (Puspa): Pekan Raya Perpajakan Nasional (PRPN) tahun 2017. Saat itu dia masih duduk di tahun pertama kuliah. Namun status "anak baru" yang melekat padanya tidak membuat Daniah malu-malu melakukan hal yang menjadi kewajibannya dengan total. Dalam catatan saya ada beberapa hal yang membuat saya salut, terutama perihal bagaimana dia menyikapi krisis dengan tenang, pengambilan keputusan yang relatif bagus, dan keberaniannya untuk melakukan protes kepada atasannya dalam kepanitiaan yang bertindak tidak sesuai dengan koridor. Atau setidaknya begitu menurutnya.

Setelah kepanitiaan usai saya diangkat menjadi Kepala Puspa dan beberapa kursi kepengurusan kosong. Salah satunya adalah kursi wakil kepala. Dengan melihat rekam jejak teman-teman mahasiswa terutama sepanjang gelaran hajatan besar PRPN, saya tidak ragu untuk membujuk Daniah untuk menerima posisi itu. Meski awalnya menolak, akhirnya Daniah mengiyakan tawaran tersebut. Saya tidak dalam kapasitas untuk menilai apakah kepengurusan periode itu membuat paling tidak satu peninggalan kecil yang cukup berarti dan manfaat. Yang jelas ada yaitu catatan demi catatan yang merangkum cerita. Bahwa sebuah organisasi kampus yang belum lama berdiri memiliki cita-cita besar dikelola oleh orang-orang baru yang ingin terus berkembang. Salah satunya adalah Daniah.

Nov 4, 2018

Ziarah Bohemian Rhapsody


Sudah sekitar satu pekan ini, film Bohemian Rhapsody ditayangkan di bioskop. Saya yang sudah menantikan film ini sejak lama tentu tidak ingin ketinggalan menontonnya. Pada hari pertama penayangannya saya langsung memesan tiket, meskipun baru ada jadwal untuk tengah malam. Selesai menontonnya, saya pulang dan langsung tidur. Keesokan pagi, saya terbangun dengan hati yang aneh, senang yang memuncak sekaligus remuk tak terkira.

Bohemian Rhapsody merupakan film biopik mengenai Freddie Mercury, vokalis Queen, salah satu band terbesar sepanjang masa. Film dibuka dengan adegan para personel band sedang bersiap memasuki panggung untuk konser Live Aid, dan ditutup dengan aksi panggung Freddie dan kawan-kawan di gigs tersebut. Namun di sini saya tidak sedang ingin bercerita penuh mengenai isi film, apalagi meresensi dengan kritik yang berisi tentang kesalahan-kesalahan faktual dalam film ketika dibandingkan dengan kehidupan asli Freddie (ayolah, teman, film dibuat untuk menjadi film, menjadi seni – dan tentu saja, menjadi fiksi!), atau tentang kucing-kucing Freddie yang tidak pernah menua, atau kecepatan tempo dalam film yang membuat karakter para tokoh tidak dibangun dengan baik, hingga tuduhan film ini menunjuk secara tersirat tapi semena-mena kehidupan glamor sang vokalis dan, ini yang paling menonjok, perilaku homoseksual sebagai biang kerok AIDS yang dideritanya.

Mar 22, 2018

Di Atas Segala Lapangan Tanah Air Aku Hidup, Aku Gembira

Pagi ini saya tiba-tiba teringat tulisan Muhammad Hatta yang berjudul "Di Atas Segala Lapangan Tanah Air Aku Hidup, Aku Gembira". Kali pertama tulisan ini dipublikasikan dalam harian Daulat Ra'jat dengan titimangsa 20 Januari 1934.  Akan tetapi, isinya selalu relevan buat mereka dan segala yang mengaku orang Indonesia. Saya ketik ulang di blog ini untuk memperingati lima tahun saya penempatan, untuk rekan-rekan DJP yang baru saja hendak menjejakkan kakinya di seluruh wilayah Indonesia, dan untuk siapa saja yang berkenan membacanya.

Oct 4, 2017

Nala

Tiga tahun sebelum melanjutkan pendidikannya ke jenjang Diploma 4, sang pemuda dikagetkan oleh seseorang yang baru dikenalnya beberapa menit sebelumnya melalui vonis yang demikian halus, tetapi mengerikan. Saat itu adalah awal-awal sang pemuda menginjakkan kaki di dunia kerja. Karena belum mengenal banyak rekan kerja dan tidak mengerti tempat makan yang enak namun murah, saat istirahat siang sang pemuda memutuskan untuk makan di kantin kantor yang terletak tidak jauh dari kubikelnya.

Saat menunggu makanan tiba, seorang bapak yang berpakaian rapi -- kelihatannya seperti pegawai kantornya, kalau tidak pegawai kantor sebelah -- mendekatinya dan mengajaknya berkenalan. Saat si bapak berbasa-basi menanyakan umur, status pernikahan, dan asal daerah, makanan yang dipesan oleh sang pemuda tiba dan sang pemuda, demi budaya sopan santun, meminta izin kepada bapak tersebut untuk melanjutkan pembicaraan sembari makan. Si bapak tidak ambil pusing. Mengetahui sang pemuda makan, dia tetap melanjutkan pembicaraan. Jawaban 'belum menikah' yang dilontarkan oleh sang pemuda ternyata memancingnya untuk menggarap terus sang pemuda.

Apr 15, 2017

Komunisme dan Kampret yang Gagal Berlogika

Saya selalu merasa bahagia setiap kali berjumpa dengan orang yang memamerkan daftar bacaan yang barusan dia baca. Ini serius belaka, bukan sekadar sindiran untuk mencibir para snob pemula. Mungkin orang tersebut memang tidak memahami betul apa isi keseluruhan koleksinya, tetapi apa peduli aing? Barangkali dia tak sanggup memindahkan segala cerita dan kebaikan yang dituliskan di buku ke dalam batok kepalanya, tetapi apa dosa yang diperoleh dari membaca? Toh, jutaan orang membaca Kitab Omong Kosong tentang Cara Cepat Beternak Kebaikan, atau Buku Panduan Membantu Orang dengan Kelas Sosial Beberapa Derajat di Bawah Anda, dan dunia tetap tidak baik-baik saja. Yang jelas, dengan mempertunjukkan kemampuan membaca, sesungguhnya dia membuktikan dirinya bukanlah berang-berang albino atau pinguin madagaskar. Sekaligus melawan klaim pemerintah, yang secara rendah diri, mengumumkan betapa rendah minat baca warga negaranya.

Namun, beberapa bahagia sepertinya memang ditakdirkan berbenturan dengan sebuah jeda. Misalnya hujan deras yang tiba-tiba menyiram saat kau dalam perjalanan bermotor menjemput kekasih. Atau lampu mendadak mati di suatu pesta tepat ketika sedang liar-liarnya. Dan begitu pula dengan tulisan Mas Riza. Kenikmatan yang saya temui musnah setelah Mas Riza sampai di kesalahan generalisasi (untuk memperhalus kata “tuduhan”) terhadap tema komunisme.