Apr 15, 2017

Komunisme dan Kampret yang Gagal Berlogika

Saya selalu merasa bahagia setiap kali berjumpa dengan orang yang memamerkan daftar bacaan yang barusan dia baca. Ini serius belaka, bukan sekadar sindiran untuk mencibir para snob pemula. Mungkin orang tersebut memang tidak memahami betul apa isi keseluruhan koleksinya, tetapi apa peduli aing? Barangkali dia tak sanggup memindahkan segala cerita dan kebaikan yang dituliskan di buku ke dalam batok kepalanya, tetapi apa dosa yang diperoleh dari membaca? Toh, jutaan orang membaca Kitab Omong Kosong tentang Cara Cepat Beternak Kebaikan, atau Buku Panduan Membantu Orang dengan Kelas Sosial Beberapa Derajat di Bawah Anda, dan dunia tetap tidak baik-baik saja. Yang jelas, dengan mempertunjukkan kemampuan membaca, sesungguhnya dia membuktikan dirinya bukanlah berang-berang albino atau pinguin madagaskar. Sekaligus melawan klaim pemerintah, yang secara rendah diri, mengumumkan betapa rendah minat baca warga negaranya.

Namun, beberapa bahagia sepertinya memang ditakdirkan berbenturan dengan sebuah jeda. Misalnya hujan deras yang tiba-tiba menyiram saat kau dalam perjalanan bermotor menjemput kekasih. Atau lampu mendadak mati di suatu pesta tepat ketika sedang liar-liarnya. Dan begitu pula dengan tulisan Mas Riza. Kenikmatan yang saya temui musnah setelah Mas Riza sampai di kesalahan generalisasi (untuk memperhalus kata “tuduhan”) terhadap tema komunisme.

Apr 8, 2017

Pilihan

Beberapa waktu belakangan, saya cukup intensif berinteraksi dengan para rekan mahasiswa Politeknik Keuangan Negara STAN yang tergabung dalam kepanitiaan Pekan Raya Perpajakan Nasional 2017. Kegiatan ini baru kali pertama diselenggarakan oleh Pusat Studi Perpajakan, sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa di kampus yang sama. Atas nama waktu, Pekan Raya Perpajakan selesai dilaksanakan dengan baik. Cukup sukses untuk pencapaian pada usia belia, baik para panitia yang menggerakan maupun organisasi penggagasnya.

Tentu kegembiraan tidak bisa dibagi rata pada semua pihak. Dalam bisik-bisik, saya mendengar beberapa panitia yang menyesalkan aktivitasnya dalam menyiapkan Pekan Raya Perpajakan membuat mereka kehabisan waktu untuk melakukan hal lain yang tidak kalah penting, seperti misalnya kuliah. Beberapa kali, karena agenda yang bertabrakan, seorang panitia harus mangkir dari daftar presensi yang biasa dipenuhi olehnya. Tidak jarang, di sela kuliah yang sebenarnya sudah dihadiri, dia pun terpaksa izin kepada dosen karena ada janji koordinasi dengan panitia lain maupun dipanggil oleh pihak lain yang berkepentingan. Di kampus ini, bolos merupakan jalan untuk mendekatkan diri pada status drop out. Saya bisa memaklumi hal tersebut. Politeknik Keuangan Negara STAN merupakan salah satu kampus yang terkenal dengan disiplinnya. Pun, hampir tidak ada orang waras yang menyerahkan dirinya terpental dari kampus gratisan yang menjanjikan pekerjaan selepas lulus ini.

Nov 15, 2016

Mengadili Persepsi Amnesti



Amnesti pajak yang sedang ramai diperbincangkan sebetulnya bukanlah kebijakan yang belakangan ada. Justru ia muncul jauh sebelum peradaban modern lahir. Rosetta Stone, sebuah prasasti yang bertiti mangsa 200 SM, menjelaskan siapa yang melakukan Amnesti Pajak kali pertama dalam sejarah. Raja Ptolomeus V atau yang dikenal nama Ephiphanes dahulu kala pernah memberikan sebuah kebijakan Amnesti Pajak. Pengampunan itu diberlakukan bagi seluruh warga yang berada di wilayah Kerajaan Mesir Raya, juga bagi warga yang sedang menjalani hukuman atau dipenjara karena melakukan serangkaian pemberontakan dan tentunya penggelapan pajak. Ribuan tahun setelahnya, banyak penguasa yang ikut tercatat memberikan pengampunan dalam bidang perpajakan. Contohlah Italia pada November 2001 dan Polandia pada periode September 2002 hingga April 2003, misalnya. Bahkan pada musim panas 2002, kanselor Jerman, Gerhard Schroder, membawa isu amnesti pajak ke dalam sidang dengan berkata, "lebih baik orang-orang yang bekerja di Leipzig daripada uang yang duduk di Liechtenstein. Ini prinsip."

Masalahnya, bukti empiris menunjukkan bahwa Amnesti Pajak tidak meningkatkan penerimaan negara jangka panjang secara signifikan. Bukti ini bisa dilacak melalui penelitian Alm dan Beck di Kolorado, misalnya. Atau riset Das-Gupta dan Mookherje terhadap pengaruh Amnesti Pajak di India pada 1965 hingga 1992 yang menyimpulkan bahwa dari 12 kali Amnesti Pajak yang dilakukan pemerintah India di periode tersebut, hanya tahun 1975 yang menelurkan hasil positif. Kegagalan demi kegagalan Amnesti Pajak tersebut disebabkan oleh kepatuhan pajak yang menurun karena para Wajib Pajak yang sudah patuh merasa bahwa kejujuran mereka tidak dihargai.

Oct 30, 2016

Beatles, bukan Biebers



Saya tidak tahu mana yang lebih menyeramkan: gerbong perempuan commuter line atau perempuan-perempuan yang menonton The Beatles secara langsung. Yang pertama bisa kausaksikan 5 kali dalam sepekan, di jam-jam padat pekerja di Jakarta. Di sana, kau akan mengerti bahwa Teori Darwin mengenai seleksi alam belum bisa menjelaskan betapa kerasnya perjuangan Homo Sapiens dalam bertahan hidup.

Sep 20, 2016

Yang Penting Pisah Dulu, Nanti Gampang...

Muhammad Ali Jinnah dikenal dengan julukan Quaid-i-Azam alias Pemimpin Besar. Di negaranya, dia sangat dominan dan menjadi ikon politik yang sangat diingat. Salah satu alasannya adalah kemerdekaan Pakistan dari India yang salah satunya digawangi oleh Jinnah. Meskipun demikian, menjelang ajal Jinnah mengenang peristiwa besar tersebut dengan penuh sesal. Dalam salah satu wawancara, dia menumpahkan perasaannya. "Satu keputusan yang membuat aku merasa berdosa seumur hidup adalah aku telah berani-beraninya memerdekakan Pakistan," ungkapnya.

Merunut apa yang terjadi beberapa tahun sebelum itu, barangkali Jinnah adalah contoh orang yang tenggelam dalam ambisinya memperoleh hak dan berakhir dalam lautan penyesalan. Pada mulanya ia memimpikan India yang berdaulat, yang terbebas dari imperialisme. Saat itu ia tidak sendiri. Ditemani Mohandas Karamchand Gandhi, Jinnah bahu-membahu mengusir Inggris dari tanah kelahiran mereka. Sebuah duet yang ideal. Gandhi dengan satyagraha-nya dan Jinnah dengan perjuangan hukum dan politiknya berhasil memerdekakan bumi India.

Apr 22, 2016

Mezzanine

Kementerian Keuangan mempunyai forum diskusi asyik bernama Mezzanine Club yang rutin digelar sebulan sekali. Memang bukan forum resmi, tetapi lumayan menyejukkan setelah seharian penat oleh kerja birokrasi. Di kalangan anak muda Kementerian Keuangan, Mezzanine Club cukup nyaring dan sering menjadi parameter kekinian. Apalagi tema yang diangkat memang pop dan menarik minat kalangan muda menengah kelebihan duit ini. Saya sudah cukup lama ingin hadir ke forum ini, tetapi jarak, seperti dalam kisah-kisah cinta yang tak berakhir bahagia, selalu berhasil menjadi penghalang. Saya yang saat itu bekerja di pulau Sumatera tak mungkin berangkat ke Jakarta hanya untuk bertemu dengan satu-dua orang lantas pulang lagi. 

Setelah saya menjadi pegawai tugas belajar dan berkuliah lagi di Jakarta, jarak menyusut. Lebih dari itu, saya malah kemudian dekat—meski nggak dekat-dekat amat—dengan Mas Ardhi, salah satu founder Mezzanine Club. Kedekatan itulah yang bikin saya menjadi tidak enak menolak ajakan dia untuk datang ke Mezzanine Club edisi kesepuluh yang digelar malam tadi. Saya pun membatalkan acara penting yang sebetulnya jarang bisa diganggu gugat, yaitu bermalas-malasan. 

“Tenang saja, bung, nanti ada kopi. Bukan kopi mahal sih, tapi jelas bukan sachet,” rayunya pada saya yang memang lemah pada ajakan ngopi-ngopi.