Nov 15, 2016

Mengadili Persepsi Amnesti



Amnesti pajak yang sedang ramai diperbincangkan sebetulnya bukanlah kebijakan yang belakangan ada. Justru ia muncul jauh sebelum peradaban modern lahir. Rosetta Stone, sebuah prasasti yang bertiti mangsa 200 SM, menjelaskan siapa yang melakukan Amnesti Pajak kali pertama dalam sejarah. Raja Ptolomeus V atau yang dikenal nama Ephiphanes dahulu kala pernah memberikan sebuah kebijakan Amnesti Pajak. Pengampunan itu diberlakukan bagi seluruh warga yang berada di wilayah Kerajaan Mesir Raya, juga bagi warga yang sedang menjalani hukuman atau dipenjara karena melakukan serangkaian pemberontakan dan tentunya penggelapan pajak. Ribuan tahun setelahnya, banyak penguasa yang ikut tercatat memberikan pengampunan dalam bidang perpajakan. Contohlah Italia pada November 2001 dan Polandia pada periode September 2002 hingga April 2003, misalnya. Bahkan pada musim panas 2002, kanselor Jerman, Gerhard Schroder, membawa isu amnesti pajak ke dalam sidang dengan berkata, "lebih baik orang-orang yang bekerja di Leipzig daripada uang yang duduk di Liechtenstein. Ini prinsip."

Masalahnya, bukti empiris menunjukkan bahwa Amnesti Pajak tidak meningkatkan penerimaan negara jangka panjang secara signifikan. Bukti ini bisa dilacak melalui penelitian Alm dan Beck di Kolorado, misalnya. Atau riset Das-Gupta dan Mookherje terhadap pengaruh Amnesti Pajak di India pada 1965 hingga 1992 yang menyimpulkan bahwa dari 12 kali Amnesti Pajak yang dilakukan pemerintah India di periode tersebut, hanya tahun 1975 yang menelurkan hasil positif. Kegagalan demi kegagalan Amnesti Pajak tersebut disebabkan oleh kepatuhan pajak yang menurun karena para Wajib Pajak yang sudah patuh merasa bahwa kejujuran mereka tidak dihargai.

Oct 30, 2016

Beatles, bukan Biebers



Saya tidak tahu mana yang lebih menyeramkan: gerbong perempuan commuter line atau perempuan-perempuan yang menonton The Beatles secara langsung. Yang pertama bisa kausaksikan 5 kali dalam sepekan, di jam-jam padat pekerja di Jakarta. Di sana, kau akan mengerti bahwa Teori Darwin mengenai seleksi alam belum bisa menjelaskan betapa kerasnya perjuangan Homo Sapiens dalam bertahan hidup.

Sep 20, 2016

Yang Penting Pisah Dulu, Nanti Gampang...

Muhammad Ali Jinnah dikenal dengan julukan Quaid-i-Azam alias Pemimpin Besar. Di negaranya, dia sangat dominan dan menjadi ikon politik yang sangat diingat. Salah satu alasannya adalah kemerdekaan Pakistan dari India yang salah satunya digawangi oleh Jinnah. Meskipun demikian, menjelang ajal Jinnah mengenang peristiwa besar tersebut dengan penuh sesal. Dalam salah satu wawancara, dia menumpahkan perasaannya. "Satu keputusan yang membuat aku merasa berdosa seumur hidup adalah aku telah berani-beraninya memerdekakan Pakistan," ungkapnya.

Merunut apa yang terjadi beberapa tahun sebelum itu, barangkali Jinnah adalah contoh orang yang tenggelam dalam ambisinya memperoleh hak dan berakhir dalam lautan penyesalan. Pada mulanya ia memimpikan India yang berdaulat, yang terbebas dari imperialisme. Saat itu ia tidak sendiri. Ditemani Mohandas Karamchand Gandhi, Jinnah bahu-membahu mengusir Inggris dari tanah kelahiran mereka. Sebuah duet yang ideal. Gandhi dengan satyagraha-nya dan Jinnah dengan perjuangan hukum dan politiknya berhasil memerdekakan bumi India.

Apr 22, 2016

Mezzanine

Kementerian Keuangan mempunyai forum diskusi asyik bernama Mezzanine Club yang rutin digelar sebulan sekali. Memang bukan forum resmi, tetapi lumayan menyejukkan setelah seharian penat oleh kerja birokrasi. Di kalangan anak muda Kementerian Keuangan, Mezzanine Club cukup nyaring dan sering menjadi parameter kekinian. Apalagi tema yang diangkat memang pop dan menarik minat kalangan muda menengah kelebihan duit ini. Saya sudah cukup lama ingin hadir ke forum ini, tetapi jarak, seperti dalam kisah-kisah cinta yang tak berakhir bahagia, selalu berhasil menjadi penghalang. Saya yang saat itu bekerja di pulau Sumatera tak mungkin berangkat ke Jakarta hanya untuk bertemu dengan satu-dua orang lantas pulang lagi. 

Setelah saya menjadi pegawai tugas belajar dan berkuliah lagi di Jakarta, jarak menyusut. Lebih dari itu, saya malah kemudian dekat—meski nggak dekat-dekat amat—dengan Mas Ardhi, salah satu founder Mezzanine Club. Kedekatan itulah yang bikin saya menjadi tidak enak menolak ajakan dia untuk datang ke Mezzanine Club edisi kesepuluh yang digelar malam tadi. Saya pun membatalkan acara penting yang sebetulnya jarang bisa diganggu gugat, yaitu bermalas-malasan. 

“Tenang saja, bung, nanti ada kopi. Bukan kopi mahal sih, tapi jelas bukan sachet,” rayunya pada saya yang memang lemah pada ajakan ngopi-ngopi.

Apr 2, 2016

Intelegensi Embun Pagi: Kisah Penutup yang Tidak Menjanjikan

Supernova Episode: Intelegensi Embun Pagi

Penulis : Dewi Lestari
Penerbit : Penerbit Bentang
Cetakan : I, Februari 2016
Tebal : xiv + 710 halaman
ISBN : 978-602-291-131-9



Perjalanan panjang Dewi Lestari dalam serial Supernova akhirnya selesai. Proyek besar ini ditutup oleh Intelegensi Embun Pagi, menggenapi lima buku sebelumnya yang dicicil terbit selama lima belas tahun. Intelegensi Embun Pagi dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam buku-buku sebelumnya, sekaligus menjalin benang merah untuk menyambungkan tokoh-tokoh yang nyaris terlihat tidak saling bertautan. Di Indonesia, hingga sekarang, sangat jarang penulis yang memiliki proyek literasi megah. Dewi Lestari adalah salah satunya. Dia berhasil membuat novel dengan riset panjang untuk membuat plot, tema-tema, dan berbagai subjudul yang seolah  berdiri sendiri tapi saling berkelindan.

Jan 22, 2016

Tawaran

“Syaratnya gampang. Kalau kau merasa bisa menuliskan sesuatu dan merasa tulisanmu itu bagus, kau berhak membawa pulang dan memiliki buku yang kubawa ini.”



***

Saya menyukai karya-karya, apapun, yang dikerjakan dengan baik. Lebih dari itu, saya mencintai tulisan-tulisan, jenis apapun itu, yang baik. Membaca tulisan baik membuat saya tidak merasa menghabiskan sebagian hidup dengan sia-sia. Meskipun belum bisa menulis dengan baik, saya bisa mengumpat penuh kebahagiaan ketika membaca karya yang ditulis dengan begitu cemerlangnya—juga sebaliknya: membenci karya yang ditulis dengan begitu buruk.