Sep 20, 2016

Yang Penting Pisah Dulu, Nanti Gampang...

Muhammad Ali Jinnah dikenal dengan julukan Quaid-i-Azam alias Pemimpin Besar. Di negaranya, dia sangat dominan dan menjadi ikon politik yang sangat diingat. Salah satu alasannya adalah kemerdekaan Pakistan dari India yang salah satunya digawangi oleh Jinnah. Meskipun demikian, menjelang ajal Jinnah mengenang peristiwa besar tersebut dengan penuh sesal. Dalam salah satu wawancara, dia menumpahkan perasaannya. "Satu keputusan yang membuat aku merasa berdosa seumur hidup adalah aku telah berani-beraninya memerdekakan Pakistan," ungkapnya.

Merunut apa yang terjadi beberapa tahun sebelum itu, barangkali Jinnah adalah contoh orang yang tenggelam dalam ambisinya memperoleh hak dan berakhir dalam lautan penyesalan. Pada mulanya ia memimpikan India yang berdaulat, yang terbebas dari imperialisme. Saat itu ia tidak sendiri. Ditemani Mohandas Karamchand Gandhi, Jinnah bahu-membahu mengusir Inggris dari tanah kelahiran mereka. Sebuah duet yang ideal. Gandhi dengan satyagraha-nya dan Jinnah dengan perjuangan hukum dan politiknya berhasil memerdekakan bumi India.

Apr 22, 2016

Mezzanine

Kementerian Keuangan mempunyai forum diskusi asyik bernama Mezzanine Club yang rutin digelar sebulan sekali. Memang bukan forum resmi, tetapi lumayan menyejukkan setelah seharian penat oleh kerja birokrasi. Di kalangan anak muda Kementerian Keuangan, Mezzanine Club cukup nyaring dan sering menjadi parameter kekinian. Apalagi tema yang diangkat memang pop dan menarik minat kalangan muda menengah kelebihan duit ini. Saya sudah cukup lama ingin hadir ke forum ini, tetapi jarak, seperti dalam kisah-kisah cinta yang tak berakhir bahagia, selalu berhasil menjadi penghalang. Saya yang saat itu bekerja di pulau Sumatera tak mungkin berangkat ke Jakarta hanya untuk bertemu dengan satu-dua orang lantas pulang lagi. 

Setelah saya menjadi pegawai tugas belajar dan berkuliah lagi di Jakarta, jarak menyusut. Lebih dari itu, saya malah kemudian dekat—meski nggak dekat-dekat amat—dengan Mas Ardhi, salah satu founder Mezzanine Club. Kedekatan itulah yang bikin saya menjadi tidak enak menolak ajakan dia untuk datang ke Mezzanine Club edisi kesepuluh yang digelar malam tadi. Saya pun membatalkan acara penting yang sebetulnya jarang bisa diganggu gugat, yaitu bermalas-malasan. 

“Tenang saja, bung, nanti ada kopi. Bukan kopi mahal sih, tapi jelas bukan sachet,” rayunya pada saya yang memang lemah pada ajakan ngopi-ngopi.

Apr 2, 2016

Intelegensi Embun Pagi: Kisah Penutup yang Tidak Menjanjikan

Supernova Episode: Intelegensi Embun Pagi

Penulis : Dewi Lestari
Penerbit : Penerbit Bentang
Cetakan : I, Februari 2016
Tebal : xiv + 710 halaman
ISBN : 978-602-291-131-9



Perjalanan panjang Dewi Lestari dalam serial Supernova akhirnya selesai. Proyek besar ini ditutup oleh Intelegensi Embun Pagi, menggenapi lima buku sebelumnya yang dicicil terbit selama lima belas tahun. Intelegensi Embun Pagi dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam buku-buku sebelumnya, sekaligus menjalin benang merah untuk menyambungkan tokoh-tokoh yang nyaris terlihat tidak saling bertautan. Di Indonesia, hingga sekarang, sangat jarang penulis yang memiliki proyek literasi megah. Dewi Lestari adalah salah satunya. Dia berhasil membuat novel dengan riset panjang untuk membuat plot, tema-tema, dan berbagai subjudul yang seolah  berdiri sendiri tapi saling berkelindan.

Jan 22, 2016

Tawaran

“Syaratnya gampang. Kalau kau merasa bisa menuliskan sesuatu dan merasa tulisanmu itu bagus, kau berhak membawa pulang dan memiliki buku yang kubawa ini.”



***

Saya menyukai karya-karya, apapun, yang dikerjakan dengan baik. Lebih dari itu, saya mencintai tulisan-tulisan, jenis apapun itu, yang baik. Membaca tulisan baik membuat saya tidak merasa menghabiskan sebagian hidup dengan sia-sia. Meskipun belum bisa menulis dengan baik, saya bisa mengumpat penuh kebahagiaan ketika membaca karya yang ditulis dengan begitu cemerlangnya—juga sebaliknya: membenci karya yang ditulis dengan begitu buruk.

Jan 18, 2016

Turba

"Kamu itu ngaku kuminis kok ya nggak pernah turba. Pegang arit saja canggung," ujar Pak Slamet Rianto ke Mas Ahm├ęd Taufiq Rosidi alias Mas Topiq.

Akhir pekan kemarin saya dan Mas Topiq sowan ke rumah dinas Pak Slamet. Sabtu malam, selepas Maghrib, saya memesan travel dari terminal Blok M menuju Bandung. Menjelang tengah malam saya baru tiba setelah berkali-kali pejabat yang ramah senyum ini meyakinkan saya bahwa tidak ada kata terlalu larut untuk datang ke kediamannya. Mas Topiq yang kebetulan sedang mengikuti pendidikan dan pelatihan di sebuah hotel di kota ini sudah datang beberapa jam lebih dulu. Kami pun kemudian melanjutkan obrolan hingga Adzan Subuh berkumandang. Mas Topiq yang sudah kepalang tanggung memutuskan tidak kembali ke hotel. Dia memilih untuk menginap di rumah Pak Slamet.

Keesokan harinya saya bangun agak siang, sekitar pukul 10, dan melihat Pak Slamet berada di belakang rumah sedang sibuk memegangi gitar milik anaknya. Rupanya gitar tersebut rusak dan beliau berencana untuk membawanya ke temannya untuk diperbaiki.

Dec 27, 2015

Wisuda

Ketika saya memulai hari pertama ngantor, Prima Sulistya membuatkan saya sebuah notes facebook. Dia bercerita tentang bagaimana kami pertama berkenalan saat SMA, sekelas, dan berteman begitu saja. Dia juga bercerita mengenai bagaimana kami saling menertawai nasib masing-masing. Tentang bagaimana saya yang mulai merintis karir sedangkan dia masih terlunta-lunta sebagai mahasiswa. Notes tersebut bisa dibaca di sini

Sebetulnya, pada medio tersebut Prima sudah bisa lulus kuliah dengan menyandang selempang bertuliskan kata cumlaude di setelan pakaian wisudanya. Namun hal tersebut ditepisnya dengan gagah. Alasannya sederhana. Pada kesempatan tersebut mantannya juga diwisuda. “Anak Ekspresi punya adat buat berkumpul selepas wisuda, bersama senior-senior lain. Masa iya aku rela dipasang-pasangkan dengannya lagi,” ujarnya.